Sifat setia yang mulia ini membuat indah kisah kaum salaf yang setia. Kisah itu selalu menerangi segenap majelis generasi ahli dzikir hingga zaman para Da'i sekarang ini. Idahnya kesetiaan kaum salaf itu medorong mereka untuk mencela siapa saja yang melanggarnya.
Sinar cahaya kesetiaan inilah yang mendorong Umar ibnu al-Khattab untuk menyanyikanya dan menjadikanya sebagai tanda seorang muslim. Umar mengungkapkanya dalam beberapa kalimat yang mengandung petunjuk, ketika Adi bin Hatim datang menghadap kepadanya bersama rombongan.
"Umar mulai memanggil para utusan satu persatu, seraya menyebut nama mereka. Lalu aku (Adi) berkata: Apakah anda tidak mengenalku wahai Amirul Mukminin?"
Umar menjawab: "Tentu
Kamu masuk Isalm ketika mereka kafir.
Kamu datang ketika mereka berpaling.
Kamu setia ketika mereka khianat.
Kamu berbuat kebaikan ketika mereka melakukan kemungkaran."
Adi berkata: "Kalau begitu, saya tidak peduli".
Itulah beberapa sisi kepribadian dan identitas seorang muslim yang sejati:
Datang ketika orang-orang berpaling
Setia ketika orang-orang berkhianat
Melakukan kebaikan ketika orang-orang melakukan kemungkaran.
Setelah itu, ia tidak akan peduli, apabila namanya tidak diketahui orang, atau nasab keturunanya tidak dikenal oleh para pengamat. Ia tidak peduli semua itu, selagi ia selalu tinggi dan mulia dengan akhlak, perilaku dan kepribadian, di tengah hiruk pikuk dunia dan godaan materi. Ia akan tetap tinggi dengan kemuliaan jiwa sampai ke ufuk yang tertinggi.
Kemudian ia tetap menjadi pencari keselamatan, bahkan bertambah besar keinginanya, sehingga ia menjadi murrabi dan guru bagi orang lain. Ia mendidik mereka bagaimana cara menutupi (kekurangan) dan menghindari Fitnah. Sebagai mana dilakukan seorang tabi'i, Ka'ab bin sur rahimahullah, ketika terjadi perselisihan yang mengakibatkan peperangan dikalangan sahabat:
"Ia masuk kesebuah rumah dan menutup rapat pintu rumah itu. Lalu ia membuat sebuah lubang kecil untuk mendapatkan makanan dan minumanya, agar ia terhindar dari fitnah".
Orang yang belum mengerti tarbiyah mengira apa yang dilakukan oleh Ka'ab itu sebagai perbuatan mengada-ada yang didorong oleh rasa riya, atau bahkan akan segera menuduh Ka'ab sebagai orang yang kurang waras. Akan tetapi dari sudutpandang praktis ia merupakan tarbiyah. Ka'ab melakukan itu agar orang-orang yang terlibat dan diseru untuk ikut perang saudara itu dapat melihat dan memikirkan apakah yang sebenarnya terjadi? Sehingga timbul pertanyaan dari diri merekauntuk diri mereka sendiri, untuk kembali merenungkan hakikat pertikaian ini, menganalisa dan saling interopeksi diri. Semoga dengan demikian hati yang panas akan kembali dingin dan tenang, lalu kembali pada fikiran jernih dalam menyelesaikan masalah, dan dapat memikirkan masa depan mereka.
Sikap mengucilkan ini boleh dilakukan apabila terdapat hal-hal problematik atau akan berujung pada pertumpahan darah.
Namun, bila dalil-dalil tentang keabsahan seorang Amir sudah terpenuhi, maka tidak ada jalan kecuali taat, walaupun ia akan ditumbangkan oleh para penghianat.
Seperti yang dituturkan oleh Muhammad Ahmad Ar-Rasyid dalam Seri Fiqh Dakwahnya.
Kemudian ia tetap menjadi pencari keselamatan, bahkan bertambah besar keinginanya, sehingga ia menjadi murrabi dan guru bagi orang lain. Ia mendidik mereka bagaimana cara menutupi (kekurangan) dan menghindari Fitnah. Sebagai mana dilakukan seorang tabi'i, Ka'ab bin sur rahimahullah, ketika terjadi perselisihan yang mengakibatkan peperangan dikalangan sahabat:
"Ia masuk kesebuah rumah dan menutup rapat pintu rumah itu. Lalu ia membuat sebuah lubang kecil untuk mendapatkan makanan dan minumanya, agar ia terhindar dari fitnah".
Orang yang belum mengerti tarbiyah mengira apa yang dilakukan oleh Ka'ab itu sebagai perbuatan mengada-ada yang didorong oleh rasa riya, atau bahkan akan segera menuduh Ka'ab sebagai orang yang kurang waras. Akan tetapi dari sudutpandang praktis ia merupakan tarbiyah. Ka'ab melakukan itu agar orang-orang yang terlibat dan diseru untuk ikut perang saudara itu dapat melihat dan memikirkan apakah yang sebenarnya terjadi? Sehingga timbul pertanyaan dari diri merekauntuk diri mereka sendiri, untuk kembali merenungkan hakikat pertikaian ini, menganalisa dan saling interopeksi diri. Semoga dengan demikian hati yang panas akan kembali dingin dan tenang, lalu kembali pada fikiran jernih dalam menyelesaikan masalah, dan dapat memikirkan masa depan mereka.
Sikap mengucilkan ini boleh dilakukan apabila terdapat hal-hal problematik atau akan berujung pada pertumpahan darah.
Namun, bila dalil-dalil tentang keabsahan seorang Amir sudah terpenuhi, maka tidak ada jalan kecuali taat, walaupun ia akan ditumbangkan oleh para penghianat.
Seperti yang dituturkan oleh Muhammad Ahmad Ar-Rasyid dalam Seri Fiqh Dakwahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar