(Risalah Ta’alim wal Usar)
Jalan panjang membentang luas, jalan yang penuh dengan onak dan duri, jalan yang tidak sepi dari ujian dan cobaan. Itulah hakikat jalan da’wah ilallah, yang tidak bias difahami tabi’atnya kecuali oleh mereka yang sudah melalang buana dalam pahit dan getirnya jalan dak’wah ini.
Dengan bahasa yang lugas dan penuh bijaksana, Al- Imam Asy- Syahid Hasan Al- Banna, seorang pejuang islam yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi tegaknya al- haq ingin memberikan rambu-rambu jalan bagi mereka yang sudah ber’azam untuk menegakan kalimatullah dimuka bumi ini, berupa risalah perjuangan dalam rangka meraih kemenangan tersebut.
Kapan lagi kita akan bergerak, padahal gendering perang sudah ditabuh oleh jundusy syaithon berabad-abad lamanya dalam menentang al- haq dimuka bumi ini.
Dengan demikian itu maka sangat layak risalah kecil ini menjadi pedoman bagi generasi da’wah ilallah. Semoga!
Disini Akh-San sajikan artikel-artikel yang dikutip daribuku tersebut, diantaranya:
Semoga dapat bermanfaat dan semoga kita semua dapat merealisasikanya dalam kehidupan dan amal-amal kita, amien.
RUKUN BAI’AT
Diambil dar buku “Risalahtut Ta’lim” Imam Hasan Al- Banna
Rukun Bai’at ada 10, hafalkanlah !
1. Al- Fahm (Pemahaman)
Hendaklah anda meyakini bahwa fikrah kita adalah fikrah Islamiyah yang murni dan anda memahami islam sebagaimana kami memahaminya dalam batas-batas ushul ‘Isyrin (20 Prinsip)
Ref: Baca buku “Syarah Ushul isyrin 20 prinsip” karya Hasan Al-Banna
Slogan : “Al- Qur’an adalah undang-undang kami, Rasulullah adalah tauladan kami”
2. Al- Ikhlas
Hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya kepada Allah swt, mengharap keridhaanya, dan memperoleh pahalanya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan, atau kemunduran. (Jadilah tentara fikrah dan aqidah bukan tentara kepentingan dan mencari dunia)
Slogan: “Allah adalah tujuan kami”
3. Al- Amal
Yang dimaksud dengan amal adalah buah dari ilmu dan keikhlasan
Ref: Al- Qur’an Surat : At- Taubah:105
4. Al- Jihad
Adalah sebuah kewajiban yang berlaku sampai hari kiamat.
Rasulullah bersabda :
“Barang siapa mati, sementara ia belum pernah berperang dan belum berniat untuk perang, maka ia mati seperti matinya orang jahiliyah.”
Ref : Al- Qur’an surat Al- Hajj:78
Slogan: “Jihad adalah jalan kami”
5. At- Tadhhadiyyah (Pengorbanan)
Adalah mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala-galanya demi mencapai tujuan
Cat: Tidak ada jihad (Perjuangan) didunia ini yang tidak disertai pengorbanan
Slogan: “Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi”
6. Ath- Tha’at
Adalah melaksanakan perintah dan merealisasikanya dengan serta merta, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun malas.
7. Ats- Tsabat (Keteguhan)
Senantiasa bekerja sebagai mujahid dalam memperjuangkan tujuanya, betapapun jauh jangkauan dan lamanya waktu, sampai bertemu dengan Allah swt.
Cat: Hasilnya = Hidup mulia/Mati Syahid
Waktu bagi kita adalah bagian dari solusi
Ref: Al- Qur’an surat Al- Ahzab: 23
8. At- Tajarrud (Kemurnian)
Adalah bahwa anda harus tulus pada fikrahmu dan membersihkanya dari prinsip-prinsip lain serta pengaruh orang lain. Sebab ia adalahsetinggi-tinggi fikrah.
Ref: Al- Qur’an surat Al- Baqarah:138, Al- Mumtahanah:4
9. Al- Ukhuwah
Adalah bahwa hendaknya berbagai hati dan ruh berpadu dengan ikatan aqidah.
10. Ats- Tsiqoh (Kepercayaan)
Adalah Rasa puasnya seorang jundi (prajurit) atas qa’id (komandanya) dalam hal kemampuan dan keikhlasan, dengan kepuasan mendalam yang dapat menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan.
Cat: Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan
Kekuatan jama’ah ditentukan oleh kadar kepercayaan (Ketsiqohan) antara pemimpin dan yang dipimpin
Tsiqoh kepada pemimpin merupakan segala-galanya bagi keberhasilan dakwah
Ref: Al- Qur’an surat An- Nisa:65, Muhammah:20-21
Engkau dapat menyimpulkan prinsip-prinsip tersebut dalam 5 slogan, yaitu:
1. Allah Ghayatuna (Allah adalah tujuan kami)
2. Ar- Rasul Qudwatuna (Rasul adalah teladan kami)
3. Al- Qur’an Syir’atuna (Al- Qur’an adalah syari’at kami)
4. Al- Jihadu Sabiluna (Jihad adalah jalan kami)
5. Asy- Syahadah Umniyatuna (Mati syahid adalah cita-cita kami)
Engkau juga dapat menyimpulkan manifestasinya dalam 5 kata:
1. Kesederhanaan
2. Tilawah (baca Al- Qur’an)
3. Shalat
4. Keprajuritan
5. Akhlaq
Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih:
1. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rosulnya.
2. Dan berjihad dijaalan Allah dengan harta dan jiwamu
Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.

Peganglah kuat-kuat bimbingan ini, bila tidak maka barisan orang-orang yang tidak mau berjuang (orang-orang yang duduk-duduk saja) masih dapat menampung orang-orang yang malas dan suka iseng.
Hasan Al- Banna menyebutkan dalam bukunya yang bwerjudul “Risalatut Ta’lim” bahwa dakwah itu memiliki 3 tahapan, yaitu:
1. Ta'rif
Dalam tahapan ini dakwah dilakukan dengan menyebarkan fikrah Islam di tengah masyarakat. Adapun sistem dakwah untuk tahapan ini adalah sistem kelembagaan. Urgensinya adalah kerja sosial bagi kepentingan umum, sedangkan medianya adalah nasehat dan bimbingan sekali waktu, dan membangun berbagai tempat yang berguna di waktu yang lain, juga berbagai media aktivitas lainnya.
2. Takwin
Dalam tahapan ini dakwah ditegakkan dengan melakukan seleksi terhadap anasir positif untuk memikul beban jihad dan untuk menghimpun berbagai bagian yang ada. Sistem dakwah -pada tahapan ini- bersifat tasawwuf murni dalam tataran ruhani, dan bersifat militer dalam tataran operasional. Slogan untuk dua aspek ini adalah: perintah dan taat- tanpa ragu dan bimbang.
Dakwah pada tahapan ini bersifat khusus. Tidak dapat dikerjakan oleh seseorang kecuali yang memiliki kesiapan secara benar untuk memikul beban jihad yang panjang masanya dan berat tantangannya. slogan utama dalam persiapan ini adalah: totalitasketaatan.
3. Tanfidz
Dakwah dalam tahapan ini adalah jihad; tanpa kenal sikap plin-plan, kerja terus menerus untuk menggapai tujuan akhir, serta kesiapan menanggung cobaan dan ujian yang tidak mungkin bersabar atasnya, kecuali orang-orang yang tulus. Dakwah ini tidaklah dapat meraih keberhasilan, kecuali dengan "ketaatan yang total" juga.
20 PRINSIP
Hendaknya engkau memahami Islam, sebagaimana kami memahaminya dalam batas-batas ushul al-'isyrin (dua puluh prinsip) yang sangat ringkas ini:
- Islam adalah sistem yang menyeluruh, yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dari umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana juga ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.
- Al-Our'an yang mulia dan Sunah Rasul yang suci adalah tempat kembali setiap muslim untuk memahami hukum-hukum Islam. Ia harus memahami Al-Qur'an sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, tanpa takalluf (memaksakan diri) dan ta'assuf (serampangan). Selanjutnya ia memahami Sunah yang suci melalui rijalul hadits (perawi hadits) yang terpercaya.
- Keiman yang murni/tulus, ibadah yang benar, dan mujahadah (kesungguhan dalam beribadah) adalah cahaya dan kenikmatan yang ditanamkan Allah di hati hamba-Nya yang Dia kehendaki. Sedangkan ilham, lintasan perasaan, ketersingkapan (rahasia alam/kasyaf), dan mimpi, ia bukanlah bagian dari dalil hukum-hukum syariat Islam. Maka semua itu tidak perlu diperhatikan kecuali bila tidak bertentangan dengan hukum-hukum agama dan teksteksnya.
- Jimat, mantera, guna-guna, ramalan, perdukunan, penyingkapan perkara ghaib, dan semisalnya, adalah kemunkaran yang harus diperangi, kecuali mantera dari ayat Qur'an atau ada riwayat dari Rasulullah saw.
- Pendapat imam atau wakilnya tentang sesuatu yang tidak ada teks hukumnya, tentang sesuatu yang mengandung ragam interpretasi, dan tentang sesuatu yang membawa kemaslahatan umum, bisa diamalkan sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah umum syariat. Ia mungkin berubah seiring dengan perubahan situasi, kondisi, dan tradisi setempat. Yang prinsip, ibadah itu diamalkan dengan kepasrahan total tanpa mempertimbangkan makna. Sedangkan dalam urusan selain ibadah (adat-istiadat), maka harus mempertimbangkan maksud dan tujuannya.
- Setiap orang boleh diambil atau ditolak kata-katanya, kecuali Al-Ma'shum (Rasulullah) saw. Setiap yang datang dari kalangan salaf dan sesuai dengan Kitab dan Sunah, kita merima. Jika tidak sesuai dengannya, maka Kitabullah dan Sunnah RasulNya lebih utama untuk diikuti. Namun demikian, kita tidak boleh melontarkan kepada orang-orang -oleh sebab sesuatu yang diperselisihkan dengannya- kata-kata caci maki dan celaan. Kita serahkan saja kepada niat mereka, dan mereka telah berlalu dengan amal-amalnya.
- Setiap muslim yang belum mencapai kemampuan telaah terhadap dalil-dalil hokum furu' (cabang), hendaklah mengikuti pemimpin agama. Meskipun demikian, alangkah baiknya jika -bersamaan dengan sikap mengikutnya ini- ia berusaha semampu yang ia lakukan untuk mempelajari dalil-dalilnya. Hendaknya ia menerima setiap masukan yang disertai dengan dalil selama ia percaya dengan kapasitas orang yang memberi masukan itu. Dan hendaknya ia menyempurnakan kekurangannya dalam hal ilmu pengetahuan Jika ia termasuk orang pandai, hingga mencapai derajat pentelaah (mujtahid).
- Khilaf atau perbedaan pendapat dalam masalah fiqih furu' (cabang) hendaknya tidak menjadi faktor pemecah belah dalam agama, tidak menyebabkan permusuhan dan tidak juga kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Sementara itu, tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang jujur terhadap persoalan khilafiyah dalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah untuk menuju kepada kebenaran. Semua itu tanpa melahirkan sikap egois, debat yang tercela dan fanatic buta.
- Setiap masalah yang amal tidak dibangun di atasnya -sehingga menimbulkan perbincangan yang tidak perlu- adalah kegiatan yang dilarang secara syar'i. Misalnya memperbincangkan berbagai hukum tentang masalah yang tidak benar-benar terjadi, atau memperbincangkan makna ayat-ayat Al-Qur'an yang kandungan maknanya tidak dipahami oleh akal pikiran, atau memperbincangkan perihal perbandingan keutamaan dan perselisihan yang terjadi di antara para sahabat (padahal masing-masing dari mereka memiliki keutamaannya sebagai sahabat Nabi dan pahala niatnya) Dengan ta'wil (menafsiri baik perilaku para sahabat) kita terlepas dari persoalan.
- Ma'rifah kepada Allah dengan sikap tauhid dan pensucian (dzat)-Nya adalah setinggi-tinggi tingkatan aqidah Islam. Sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadits-hadits shahih tentangnya, serta berbagai keterangan mutasyabihat yang berhubungan dengannya, kita cukup mengimaninya sebagaimana adanya tanpa ta'wil dan ta'thil, serta tidak memperuncing perbedaan yang terjadi di antara para ulama. Kita mencukupkan diri dengan keterangan yang ada, sebagaimana Rasulullah saw. dan para sahabatnya mencukupkan diri dengannya. "Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami."' (Ali lmran: 7)
- Setiap bid'ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya tetapi dianggap baik boleh hawa nafsu manusia, baik berupa penambahan maupun pengurangan, adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan cara yang sebaik-baiknya, yang tidak justru menimbulkan bid'ah lain yang lebih parah.
- Perbedaan pendapat dalam masalah bid'ah idhafiyah(amalan yang disyariatkan, tanpa ada keterangan tentang tata caranya, lalu dilakukan dengan cara-cara tertentu, misalnya, secara hokum dzikir itu disyariatkan, lantas dilakukan dengan mengeraskan suara. Mengeraskan suara tersebut adalah bid’ah idhafiyah. Lihat An-Nahjul mubin, hal. 255,-pent), bid'ah tarkiyah(meninggalkan hal-hal yang dihalalkan oleh syariat untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti yang dilakukan oleh para sufi. Lihat An-Nahjul mubin, hal. 256,-pent), dan iltizam(menentukan waktu, tempat, dan jumlah bilangan) terhadap ibadah muthlaqah (yang tidak diterapkan, baik cara, tempat, bilangan maupun waktunya) adalah khilafiyah/perbedaan dalam masalah fiqih. Setiap orang mempunyai pendapat sendiri. Namun Tidaklah mengapa jika dilakukan penelitian untuk mendapatkan hakekatnya dengan dalil dan bukti-bukti.
- Cinta kepada orang-orang yang shalih, memberikan penghormatan kepadanya, dan memuji karena perilaku baiknya adalah bagian dari taqarrub kepada Allah swt. Sedangkan para wali adalah mereka yang disebut dalam firman-Nya, "Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka itu bertaqwa." Karamah pada mereka itu benar terjadi jika memenuhi syarat-syarat syar'inya. Itu semua dengan suatu keyakinan bahwa mereka -semoga Allah meridhai merekatidak memiliki madharat dan manfaat bagi dirinya, baik ketika masih hidup maupun setelah mati, apalagi bagi orang lain.
- Ziarah kubur-kubur siapa pun- adalah sunah yang disyariatkan dengan cara-cara yang diajarkan Rasulullah saw. Akan tetapi, meminta pertolongan kepada penghuni kubur siapa pun mereka, berdoa kepadanya, memohon pemenuhan hajat (baik dari jarak dekat maupun dari kejauhan), bernadzar untuknya, membangun kuburnya, menutupinya dengan satir, memberikan penerangan, mengusapnya (untuk mendapatkan barakah), bersumpah dengan selain Allah dan segala sesuatu yang serupa dengannya adalah bid'ah besar yang wajib diperangi. juga janganlah mencari ta'wil (baca: pembenaran) terhadap berbagai perilaku itu, demi menutup pintu fitnah yang lebih parah lagi.
- Doa, apabila diiringi tawasul kepada Allah dengan salah satu makhluk-Nya adalah perselisihan furu'menyangkut tata cara berdoa, bukan termasuk masalah aqidah.
- Istilah ' (keliru) yang sudah mentradisi tidak dapat mengubah hakikat arti lafazh-lafazh tidak mengubah hakekat hukum syar'inya. Akan tetapi, ia harus disesuaikan dengan maksud dan tujuan syariat itu, dan kita berpedoman dengannya. Di samping itu, kita harus berhati-hati terhadap berbagai istilah yang menipu, yang sering digunakan dalam pembahasan masalah dunia dan agama. lbrah (yang dijadikan patokan) itu ada pada esensi di balik suatu nama, bukan pada nama itu sendiri.
- Aqidah adalah pondasi aktivitas; aktivitas hati lebih penting daripada aktivitas fisik Namun, usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syariat, meskipun kadar tuntutan masing-masingnya berbeda.
- Islam itu membebaskan akal pikiran, menghimbaunya untuk melakukan telaah terhadap alam, mengangkat derajat ilmu dan ulamanya sekaligus, dan menyambut hadirnya segala sesuatu yang melahirkan maslahat dan manfaat. "Hikmah adalah barang yang hilang milik orang yang beriman (mukmin). Barangsiapa mendapatkannya, ia adalah orang yang paling berhak atasnya. "
- Pandangan syar'i dan pandangan logika memiliki wilayahnya masing-masing yang tidak dapat saling memasuki secara sempurna. Namun demikian, keduanya tidak pernah berbeda (selalu beririsan) dalam masalah yang qath'i (absolut) Hakikat ilmiah yang benar tidak mungkin bertentangan dengan kaidah-kaidah syariat yang tsabitah (jelas). Sesuatu yang zhanni (interpretable) harus ditafsirkan agar sesuai dengan yang qath'i. Jika yang berhadapan adalah dua hal yang sama-sama zhanni, maka pandangan yang syar'i lebih utama untuk diikuti sampai logika mendapatkan legalitas kebenarannya, atau gugur sama sekali.
- Kita tidak mengkafirkan seorang muslim, yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya, baik karena lontaran pendapat maupun karena kemaksiatannya, kecuali jika ia mengatakan kata-kata kufur, mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai bagian penting dari agama, mendustakan secara terang-terangan Al-Qur'an, menafsirkannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, atau berbuat sesuatu yang tidak mungkin diinterpretasikan kecuali dengan tindakan kufur.
Nizhamul Usar (Usrah
Islam menekankan perlunya pembentukan usar (usrah-usrah/kelompok-kelompok) dari pengikutpengikutnya, yang dapat membimbing mereka kepada puncak keteladanan, mengokohkan ikatan hatinya, dan mengangkat derajat ukhuwahnya; dari kata-kata dan teori menuju realita dan amal nyata. Karena itu -wahai saudaraku- usahakan agar dirimu menjadi batu bata yang baik bagi bangunan (Islam) ini.
Sedangkan pilar-pilar ikatan ini ada tiga; hafalkan dan usahakan untuk mewujudkannya, sehingga ia tidak hanya menjadi beban berat yang kering tanpa ruh.
1. Ta'aruf (Saling Mengenal)
la adalah awal dari pilar-pilar ini. Karenanya, saling mengenallah dan saling berkasih sayanglah kalian dengan ruhullah. Hayatilah makna ukhuwah yang benar dan utuh di antara kalian, berusahalah agar tidak ada sesuatu pun yang menodai ikatan kalian, hadirkanlah selalu bayangan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits yang mulia di benakmu.
Sabda Rasulullah saw, berikut:
“Seorang mukmin dengan mukmin yang lainya itu ibarat bangunan yang sebagianya mengokohkan sebagian yang lain.”
“Seorang muslim itu saudara muslim lainya; tidak menzalimi dan menyerahkanya (kepada musuh).”
"Orang-orang yang beriman itu, dalam hal berkasih sayang dan berlemah lembut, semisal jasad yang satu."
Dalil: Al- Qur’an surat Al- Hujurat:10, Ali Imran:103
2. Tafahum (Saling Memahami)
Ia adalah pilar kedua dari pilar-pilar sistem ini. Karenanya, istiqamahlah kalian dalam manhaj yang benar, tunaikan apa-apa yang diperintahkan Allah kepadamu, dan tinggalkan apa-apa yang dilarang. Evaluasilah dirimu dengan evaluasi yang detail dalam hal ketaatan dan kemaksiatan, setelah itu hendaklah setiap kalian bersedia menasehati saudaranya yang lain begitu aib tampak padanya. Hendaklah seorang akh menerima nasehat saudaranya dengan penuh rasa suka cita dan ucapkan terima kasih padanya.
Cat: Agama adalah nasihat
3. Takaful (Saling Menanggung Beban)
Ia adalah pilar yang ketiga. Hendaklah sebagian dari kalian memikul beban sebagian yang lain. Demikian itulah fenomena konkret iman dan intisari ukhuwah. Hendaklah sebagian dari kalian senantiasa bertanya kepada sebagian yang lain (tentang kondisi kehidupannya). Jika didapatkan padanya kesulitan, segeralah memberi pertolongan selama ada jalan untuk itu. Hadirkan di benakmu kandungan sabda Rasulullah saw. ini,
"Seseorang berjalan (Pergi) dalam rangka memenuhi hajat saudaranya itu lebih baik dari pada itikaf satu bulan di masjidku ini."
"Barangsiapa memasukkan kegembiraan pada ahlul bait dari kalangan kaum muslimin, Allah tidak melihat balasan baginya kecuali surga."
Semoga Allah mengikat hati kalian dengan ruh-Nya. Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Dikutip dari Buku Risalatut Ta’lim Imam Hasan Al- Banna
SEPULUH WASIAT IMAM HASAN AL- BANNA
1. Bergegaslah menunaikan shalat ketika mendengar adzan, walau dalam kondisi bagaimanapun !
2. Bacalah Al-qur'an, lakukan pengkajian, dengarkan dan berdzikir kepada Allah, jangan gunakan waktumu untuk hal-hal yang tidak berguna !
3. Berusahalah sekuat tenaga untuk berbicara dengan bahasa Arab yang fasih, sebab itu merupakan syi'ar Islam !
4. Jangan memperbanyak perdebatan dalam urusan apapun, sebab perdebatan tidak mendatangkan kebaikan !
5. Jangan banyak tertawa, sebab hati yang berhubungan dengan Allah itu harus senantiasa tenang dan berwibawa !
6. Jangan banyak bergurau, sebab ummat yamg berjuang tidak mengenal kecuali keseriusan !
7. Jangan berbicara terlalu keras, sebab itu akan mengganggu dan menyakitkan !
8. Jangan menggunjing orang lain, jangan menghina lembaga Islam dan jangan membicarakan kecuali yang baik-baik !
9. Perkenlkanlah dirimu pada saudara yang kau ketemui, walaupun ia tidak memintanya, sebab asas dakwah kita adalah kecintaan dan saling mengenal !
10. Kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Maka, pergunakanlah sebaik-baiknya !
akh-san.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar